Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 April 2012

HARI ITU, 8-10 APRIL '12


Aku terbangun dengan dering Hendponku yang nyaris tanpa henti. Ku lihat jam di layar hendpon buntutku masih pukul 00.08 dini hari. “2044 pesan baru” terpampang di ponselku padahal baru beberapa jam yang lalu sebelum aku tidur semua SMS di inboxku ku hapus. Ku telusuri satu persatu dan ternyata hari ini adalah 8 april 2012 dan nyaris semua pesan yang masuk adalah pesan yang berisi ucapan selamat milad. yah.. setelah mengusap mata aku tersadar bahwa hari ini adalah Hari dimana lembar sejarah hidupku bermula. 20 tahun sudah aku terlahir di dunia ini. Semakin hari aku semakin berjalan menuju amban batas kehidupan. Sungguh aku tak pernah menyangka bisa hidup sampai hari ini. 5 tahun sudah keraguan seorang dokter terbantahkan olehku. Tapi sudahlah, kututup kisah kelam itu dengan Bismillah. Hehehe. Lanjutkan hidup untuk menggapai purnama surga menuju lorong Ilahi yang sesungguhnya. Amin
          Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku. Sejujurnya, hati ini sangat senang dengan berbagai kejutan dan kebahagiaan yang datang bertubi-tubi bahkan sampai H+2 maksudnya dua hari setelah 8 april. Di tengah perasaan senang itu, seakan muncul kekhawatiran dalam diriku. Aku hanya berdialog dengan batinku dan berkata, “kamu harus bersiap jika sewaktu-waktu harus berhadapan dengan situasi yang berbanding terbalik dengan sikon hari ini.”
          Ribuan ucapan membanjiri ponselku dengan ucapan selamat, begitupun dengan e-mail dan berbagai jejaring sosial di dunia maya. Jika tahun kemarin aku menerima 8 surprice party, yang menghadirkan 8 tart manis dan membahagiakan. hari ini, aku menerima 12 tart dan lebih dari 20 kejutan yang nyaris membuat air mataku habis dan jantungku nyaris copot. Aku juga bingung kok ada yah orang yang mau peduli dengan hari kelahiranku? Padahal seharusnya mereka bisa melakukan hal lain yang mungkin lebih berharga dan lebih bermanfaat buat hidup mereka.

12 Tart hadir di hari miladku
1.     Adzan shubuh belum berkumandang, puluhan sahabatku berdatangan membawa blackforest dengan sebuah lilin merah. Kata mereka, itu karena aku suka dengan warna hitam, putih dan merah.
2.    Saat akan melakukan shalat Dhuha, berbagai kerabat, saudara dan sepupuku datang dengan sebuah tart putih berisi bronis Dark chocolate dengan dua buah lilin merah dengan angka 20 tertancap di atasnya serta dengan ucapan sebagai berikut “today is the lucky day untukmu sang pemberontak” :D
3.    Di kampus teman-teman menjebakku dengan sadis lalu mengejutkanku dengan sebuah tart persegi yang tak asing lagi bagi penikmat roti berlisensi BreadTalk. Uniknya, seseorang yang menyodorkan cake tersebut adalah orang yang selama ini kupikir membenciku. (Maap ya kaka… soalnya dingin sangat pembawaannya ke saya.hehehe.)
4.    Di sebuah tempat makan (Fast Food) seorang adik (Arie) memberiku ucapan selamat dengan sebuah tart mini berbentuk Elmo. So interest.
5.    Masih di tempat yang sama, beberapa sahabatku datang dan menyodorkan sebuah Tart bebentuk hati berwarna coklat. Mereka adalah sahabat berbendera LENTERA
6.    Tanggal 9 april setelah shalat shubuh, saya dikagetkan dengan kehadiran 2 buah tart di teras rumah dengan ucapan masing-masing. Nyaris setiap tahun saya menerima kejutan yang seperti ini. Siapapun yang mengirimkannya, makasih ya..
7.    Malam harinya, junior-juniorku datang membawa sebuah blackforest kotak dan beberapa bingkisan kado. Junior-juniorku ini adalah adik-adikku di dalam KARPET REMAJA
8.    Tanggal 10 april kembali aku dikejutkan dengan surprice dari puluhan teman-teman dan adik-adikku di rumah seorang senior yang hari itu mengundangku meeting untuk membicarakan sebuah rencana pelaksanaan program organisasiku tartnya unik, lucu dan polos. Tapi di antara semuanya, bagiku, tart itu yang paling berkesan. hahaha.
9.    Setelah itu, beberapa langganan konselingku yang selama ini hanya bertemu denganku di dunia maya akhirnya menampakkan diri mereka dengan sebuah tart istimewa dan bagiku sangat mewah saat menghadiri sebuah kegiatan di salah satu hotel di Makassar.
10.  Masih di tempat yang sama, semua orang yang hadir dalam kegiatan itu, kompak ngerjain dan saya baru sadar setelah sebuah tart muncul dalam kegelapan. Terima kasih buat sahabat blogger, tim analisis dan seluruh sahabat lembaga dan yayasanku.

Ada begitu banyak hal yang sangat membuatku terkejut dan bahagia. Beberapa diantaranya adalah ketika seorang sahabat tiba-tiba datang dari luar negeri hari ini.
Kedatangan beberapa orang sahabat yang kutahu bahwa hari sebelumnya mereka berada di luar daerah yang jaraknya cukup jauh dari tempatku berada hari ini. Tanpa harus GR dia dan mereka bilang padaku, kedatangannya telah direncanakan untuk hari ini.
Selain itu, sungguh sesuatu yang sama sekali tak pernah terbayangkan, beberapa orang pejabat daerah dan petinggi negeri ini ikut memberiku ucapan via message, Vidio Call dan calling langsung.
Ada lagi yang seru, seorang kakak yang sekolah di negeri paman sam USA mengirimkanku sebuah buku yang berjudul “Manusia Langka, perlu dilestarikan” yang ditulisnya sendiri dan hanya dibukukan sebanyak 2 buah.” So extra ordianary…!
Dan berbagai kejutan lainnya yang sangat panjang bila aku tuliskan hari ini.

Hari ini 11 April 2012 dimana aku mengabadikan kisah ini dengan menuliskannya.. kayaknya aku mulai kelelahan ngetik, so sudah dulu ya… tetap semangat…!!

Selasa, 29 November 2011

Air Mata di Atas Garuda Menuju Nusakambangan

Beberapa pekan yang lalu, Aku melakukan perjalanan dengan Pesawat Garuda Airbus-A330-243 aircraft bersama beberapa teman menuju ke Jakarta. Di sampingku duduk seorang perempuan dewasa yang berusia kira-kira 40 tahun. Saat aku tersenyum padanya, dia membalas senyumku, ternyata beliau adalah seorang dokter di RSCM dan tak lama kami terlarut dalam obrolan ringan.
”
Dokter, ada acara apa di Makassar?”, tanya ku pada Dokter yang terlihat sumringah di sampingku.
“Oh… saya
transit di makassar dari Gorontalo jemput ibu. Ini mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin adik ke-2”, jawab dokter itu.
”Wow, hebat sekali
adik ke-duanya dokter”, aku menyahut dan terdiam sejenak melihat orang tua yang sudah berumur duduk di samping dokter tersebut yang ternyata adalah ibunya.

cukup lama aku merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu yang membuncah dalam benakku, aku melanjutkan pertanyaan.
”Kalau saya tidak salah,
yang di Singapura tadi, adik ke-2 ya Dok? Kalau boleh tahu Saudaranya Dokter berapa, ayahnya dokter sudah tidak ada?”
”
Oh ya tentu boleh sayang”, Dokter tersebut tersenyum lalu bercerita:
”
Ayah meninggal dunia sejak kami masih kecil. Saat itu adik bungsunya dokter masih berumur 3 bulan. Saya adalah anak ke-2 dari 7 orang bersaudara. Anak yang ke-3 atau adik pertama saya juga seorang dokter di Malang, anak yang ke-4 atau adik ke-2 saya kerja di salah satu kantor pemerintahan di Singapura yang ingin saya kunjungi sebentar, anak yang ke-5 atau adik ke-3 saya menjadi arsitek di Jakarta, anak yang ke-6 atau adik ke-4 menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan anak yang ke-7 atau adik ke-5 saya menjadi Dosen di Semarang.”

Aku terdiam, hebat sekali orang tua dokter ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak ke-2 sampai ke-7. Aku menatap perempuan tua yang duduk di samping dokter yang baik hati ini.
”
kalau dokter anak kedua berarti dokter punya kakak dong?”
Sambil menghela napas panjang,
Dokter menjawab,
”
kakaknya dokter menjadi petani di Gorontalo, sayang. Beliau menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Aku begitu terkejut dengan informasi yang baru saja aku dengar ini,
“Maaf ya
Dok kalau aku banyak tanya…...kakaknya dokter agak mengecewakan ya di mata orang tuanya dokter? adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedangkan dia cuma menjadi petani.“
Dengan tersenyum dokter itu menjawab,
”Ooo, tidak, tidak begitu
sayang...justru dokter sangat bangga dengan kakak laki-laki nya dokter, karena dialah yang membiayai sekolah kami semua. Dia kakak yang sangat bertanggung jawab. Dia menggantikan posisi ayah untuk merawat dan membiayai semua adik-adiknya dari hasil dia bertani.”
Subuhanallah… Hatiku merasa tertunduk mendengar keluarbiasaan ini. Air mataku menetes dan hari ini aku menyantap hidangan terlezat buat batinku.

Pelajaran Hari Ini :
Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara, “Hal yang paling penting adalah bukanlah SIAPAKAH KAMU tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN.”

Sekian dari kisah perjalananku tempo hari saat akan berkunjung ke LAPAS Nusakambangan. Hari ini aku kembali termotivasi untuk tetap menjadi manusia yang selalu bisa memberi.
Dariku untuk kalian 
-Nurul ifadah-

Senin, 28 November 2011

Gudeg terlezat Dunia-Akhirat


Oleh:
-Nurul ifadah-
Yogjakarta, 8 juli 2008
Kelelahanku hari ini kusingkirkan jauh-jauh untuk menyempatkan diri menulis rangkaian kalimat ini. Aku merasa ada hal yang sangat penting yang harus kubagikan kepada sobat muda yang tengah menyempatkan diri membaca tulisan ini. Sesuatu yang ku alami hari ini. Hari dimana aku berada di sebuah hotel berbintang yang menurutku terlalu mewah untuk ditapak oleh kedua kaki kampung dan alas kaki murahan ini. Karena keajaiban Tuhan aku berada disini. Tidak bermaksud untuk pamer, aku berada di sini bukan karena aku kaya raya dan mampu membayar ongkos kamar per malamnya yang menurutku sungguh berada di luar jangkauanku. Aku hanya diutus oleh daerah tempatku bersekolah untuk melanjutkan perjuangan dalam sebuah kompetisi tingkat nasional. Namun bukan itu hal penting yang ingin aku share kepada sobat muda sekalian.
Kemarin aku didatangi oleh tiga orang anak kecil. Mereka sama sekali belum kukenal. Sore hari setelah kegiatan di hotel kemarin selesai, telepon kamarku berdering. Ku pikir itu hanya untuk menanyakan makan malamku. Atau teman-temanku yang iseng nelpon dari kamar lain hotel ini. Tapi ternyata dugaanku salah, yang menelpon adalah resepsionis hotel. Perempuan dengan suara lembut itu memberitahuku bahwa ada beberapa orang yang menungguku di loby hotel. Dari lantai 8 kamar 808 yang kutempati ini aku bergegas turun ke loby hotel. Benakku tak mau kalah untuk menebak siapa yang datang membesukku.  Aku berpikir mungkin kerabat yang berdomisili di Bandung yang jauh-jauh datang ke Jogja untuk membesukku atau teman-teman lamaku yang berdomisili disini yang berkunjung karena tahu aku sedang berada di sini untuk sebuah kompetisi tingkat Nasional. Tapi ternyata aku salah, yang datang justru orang-orang yang belum aku kenal. Mereka adalah anak-anak yang menawarkanku air mineral di terminal kemarin sebelum aku sampai ke hotel ini. yah… mereka adalah pedagang asongan yang kemarin airnya kubeli di atas bus yang kutumpangi bersama teman-teman. Yang aku heran adalah mengapa mereka tahu kalau aku disini dan untuk apa mereka menemuiku?
          Dengan penuh keheranan, aku menghampiri mereka. Melihatku berjalan ke arah mereka, spontan salah satu diantara mereka mengambil tanganku dan bersalaman.
“Eh mbak, maaf aku dan teman-teman ganggu waktunya mbak, Aku Rio pedagang asongan kemarin. Aku dan teman-teman datang kemari buat ngasih kembaliannya mbak. Waktu mau nukar uangnya mbak kemarin, aku nukernya terlalu jauh. Tiba di tempat parkir bus, bus yang mbak tumpangin udah nggak ada. Tapi untungnya yang nyupir bus itu pa’deku, jadi aku tahu mbak ada di hotel ini. ini uangnya mbak” jelasnya dengan nada mendok khas jogja yang terdengar begitu santun sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan dan beberapa uang seribuan. Aku sungguh tak dapat berkata. Ini pengalaman pertamaku dengan suasana yang seperti ini.
“Astagfirullah,.. Ngapain repot-repot sayang. Kakak nunu udah ikhlasin kok buat kalian. Lagian kakak sudah lupa kalau kakak belum ngambil kembaliannya. Hehe” jawabku sambil memegang tangan Rio
“Tapi mbak, jangan… ini terlalu banyak. Air mineralnya mbak Cuma 3000 rupiah, la uangnya mbak kegedean to mbak” tolaknya
“ia mbak jangan, kami nggak minta-minta, kami jual asongan. Nggak baik kalau kami ngutang” lanjut salah satu teman Rio dengan nada polos.
Sungguh aku tak mampu berkata. Hari itu saat perjalanan menuju hotel, memang aku sempat sedikit kesal saat bus yang kutumpangi berlaju tanpa kusadari. Di separuh perjalanan baru aku menyadari kalau ternyata aku lupa ngambil uang kembalian air mineral yang aku beli dari anak-anak penjual asongan yang kompak berdiri di hadapanku dan menawarkan dagangan mereka yang tidak seberapa. Hanya ada air mineral, permen dan beberapa bungus tissue di tas asongan mereka. Tapi rasa lelah menempuh perjalanan yang panjang dari Makassar ke Jakarta lalu lanjut ke Jogjakarta membuatku memutuskan untuk mengikhlaskannya dan melupakannya. Tapi kemarin aku merasa kalah dengan mereka yang mendatangiku hanya untuk mengembalikan uang yang menurut mereka adalah hakku. Berulang kali aku berusaha memberikan uang itu kepada mereka, tapi mereka malah nolak dan justru memohon padaku agar menerima kembalian itu.
Karena rasa bahagia yang teramat besar dalam dadaku, aku mencari cara agar aku bisa memberi mereka sesuatu tanpa harus membuat mereka merasa diberi.
“oya kalian kan orang sini, nah kakak dari Makassar. Nama kakak, Nurul ifadah. Kalian boleh panggil kakak, kakak nunu atau mbak nunu. Kakak di sini nggak lama, 2 hari kedepan kakak udah harus balik ke Makassar. besok siang sekitar jam 1 siang, kalian mau nggak bantuin kakak jalan-jalan disini? Maksudnya kakak, Rio dan teman-teman jadi pemandu wisata buat kakak. kakak belum hafal soalnya jalan ke Malioboro dari sini. heehe Daripada kakak nunu nyewa pemandu wisata yang nggak kakak kenal, mending kalian aja gimana? Ngasong g besok?” tanyaku dengan senyuman bahagia.
Mereka tampak gembira saling berpandangan dengan spontan mereka menjawab “Nggak mbak”, “Kami nggak ngasong. Iya iya besok jam satu aku, Rio dan Surna kesini lagi. Ok mbak.” Jawab salah satu dari mereka dengan muka sumringah.
“ok” jawabku.
“oya mbak nunu, kami harus pulang dulu ya mbak sampai ketemu besok” pamit mereka
“Eh tunggu dulu, ini uang yang kalian bawa tadi ambil aja, buat ongkos.” Bujukku
“ah nggak usah mbak, kami kesini diantar pakdeku.” Tolak Rio dengan senyumnya yang manis.
Aku melepas mereka dengan senyuman termanis. Bagiku mereka manusia luar biasa. anak-anak pedagang asongan yang memiliki hati yang tulus dan bening. Tuhan telah mempertemukanku dengan manusia sederhana yang luar biasa hari ini. Dalam lailku semalam, ku bersujud dan bersyukur pada Tuhan atas segala kebahagiaan yang Tuhan berikan hari ini padaku. Tak lupa juga ku sebut nama mereka yang baru saja datang menemuiku di hotel mewah ini.
          Keesokan harinya, ternyata mereka menepati janji. Mereka datang dengan paras yang begitu bersemangat. Ku ambil ranselku lalu ku berjalan bersama mereka menyusuri jalan kota gudek ini. Kami berpegangan tangan menuju dan berkeliling di malioboro. Aku meminta mereka memilih barang yang mereka sukai sebagai kenang-kenangan dariku. Mereka terlihat begitu senang, tak hentinya mereka mengucapkan terima kasih padaku. melihat mereka tersenyum dan mendengar tawa mereka justru membuatku jaaaauuuuh lebih senang dari yang mereka rasakan. Aku merasa begitu manyayangi mereka. aku jatuh sayang pada ketiga anak kecil ini. sangat sayang. Begitu banyak hal yang kami lakukan, mulai dari jalan, muter-muter di malioboro, makan di lesehan, ngemil ditaman dan duduk di tepian jalan mendengar cerita, canda dan tawa mereka. hari ini aku merasa hidup. Mereka mengajarkanku banyak hal. aku juga sempat bertanya mengapa mereka mau datang hari ini.
Kalimat singkat membuatku mengangguk dan tersenyum “Rio dan teman-teman kan udah janji ma mbak nunu, ya harus ditepati to mbak” jawab Rio nyeletus.
Rasanya masih ingin bersama anak-anak hebat ini, ponselku berdering dan seorang pendamping mengabarkanku bahwa aku lolos ke babak final malam ini. hatiku begitu senang, aku mengajak Rio, Agil dan Surna kembali ke Hotel. Hari juga sudah semakin senja. Setibanya di hotel begitu banyak orang datang dan menjabat tanganku. Kulihat wajah heran ketiga bocah ini, namun aku tetap menggandeng tangan mereka memasuki kamarku. Di kamar ini kuizinkan mereka tidur, berbaring, nonton dan bermain dengan notebookku. Mereka rasanya seperti adik kandungku sendiri. Aku meminta mereka menjadi supporter istimewa yang akan duduk di kursi paling depan saat aku presentasi di babak final. Aku begitu bersemangat melakukan persiapan yang hanya tinggal beberapa jam lagi untuk tampil di babak terakhir ini.
          Waktunyapun tiba, aku menggunakan pakaian lengkap dan siap untuk bertempur menjadi terbaik se-Indonesia. Kulihat wajah heran Rio, Agil dan Surna. tapi aku Cuma tersenyum pada mereka. Nafasku berpadu dengan lantunan dzikir di hatiku. Ku pasrahkan semuanya pada penilaian dan segala hal yang terbaik dari Tuhan yang seharian ini memberiku kebahagiaan tiada tara. Waktu demi waktu terus berjalan, aku tampil dengan maksimal di hadapan audiens dan para juri yang terlihat begitu berwibawa. Ketiga sahabat baruku itu terlihat melompat girang dan bertepuk tangan setelah presentasiku dan langsung menyambut tanganku dan menciumnya.
          Setelah semua peserta di babak final ini selesai melakukan presentasi, tiba giliran pengumuman hasil perjuangan kami. Aku tak berharap apa-apa dari perjuangan ini. bagiku aku telah memenangkan kompetisi ini dengan menyelesaikan setiap babak dengan usaha yang maksimal. Bagiku pengalaman dan peningkatan kualitas diri sendiri adalah hal yang terpenting. Juara berapapun aku terima. Walau telah pasrah, aku tetap saja deg-degan. Mulai dari harapan 3 sampai juara 3, namaku belum juga disebut, aku sudah tidak berharap lagi. Terlalu tinggi rasanya aku harus berharap berada di posisi yang kedua apalagi pertama. Aku melihat begitu banyak manusia berkualitas lainnya yang juga ikut bertempur bersamaku menjadi juara di kompetisi bergensi ini. Tapi saat itu ada hal yang membuatku nyaris pingsan. Saat seorang dewan juri meneriakkan namaku sebagai pemenang pertama sekaligus pemenang umum dalam rangkaian kompetisi ini. Tiga sahabat baruku langsung melompat dan memelukku. Rombongan Selebes yang bersamaku melangkah sampai ke tanah Jawa ini seketika menyerangku dengan pelukan. Aku sesak oleh begitu banyak kebahagiaan.
          Di hadapan sahabat baruku itu, aku naik ke panggung dan menerima hadiah sebagai seorang pemenang. Ku sebut nama mereka satu persatu dengan lelehan air mata kebahagiaan. Setelah prosesi itu, mereka bertiga pamit pulang padaku. kupeluk mereka begitu erat, ribuan terima kasih kupanjatkan pada mereka. Aku menyayangi mereka dan rasanya aku tak ingin berpisah dengan mereka bertiga. Ku minta mereka menunggu sejenak di dalam kamar lalu ku keluar kamar mengambil sesuatu. Yah.. sesuatu yang akan kupersembahkan buat mereka. kuserahkan tiga buah amplop kepada mereka. kuisi sesuatu yang jumlahnya sama banyak di dalam amplop itu, buat kuberikan kepada mereka.
Amplop pertama ku tulis “Honor Pemandu Wisata Jogya”
Amplop kedua ku tulis “Honor Supporter kelas VIP”
Amplop ketiga ku tulis “Oleh-oleh khas Jogya”
Mereka sempat menolak saat kuberikan ketiga amplop tersebut. Air mataku menetes menatap mereka, kemudian aku memeluk dan mencium mereka satu persatu. Kukatakan pada mereka bahwa amplop ini, tidak kakak berikan secara Cuma-Cuma karena kalian telah menjual jasa kalian buat kakak. sama seperti kalian menjual sebotol air mineral pada kakak kemarin.
Kalian telah menjadi pemandu yang sangat baik. Dengan atau tanpa kalian, kakak tetap akan mengeluarkan amplop ini buat orang lain. tapi karena kalian yang menjadi pemandu buat kakak, makanya amplop ini adalah hak kalian.
Kalian telah bersedia menjadi supporter buat kakak di presentasi tadi. Juara ataupun tidak hari ini, amplop ini sudah kakak niatkan untuk dibagi. Tapi karena kalian bertiga bersedia menjadi supporter buat kakak, yah ini buat kalian dan ini adalah hak kalian.
Nah,.. amplop yang satunya lagi adalah amplop yang kakak sediakan untuk membeli oleh-oleh buat dibawa kembali ke Makassar, tapi bagi kakak, oleh-oleh terbaik dan termahal untuk kakak bawa pulang adalah cerita tentang kisah bersama kalian kemarin dan hari ini. kalian telah membuat kakak mengerti tentang kejujuran. Kebersamaan kakak nunu dengan kalian adalah oleh-oleh terindah dalam hidup kakak. kejujuran kalian adalah gudeg terlezat yang pernah kakak santap. Kakak senang mengenal kalian.
Akhirnya mereka tersenyum dan bersedia menerima ketiga amplop itu sambil mengucapkan terima kasih yang diucapkannya berulang-ulang nyaris tiada henti. sampai aku menulis kisahku ini, air mataku masih meleleh mengenang mereka yang begitu Luar biasa. sungguh langka momentum ini. singkat, bermakna dan begitu berharga.  
Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit. Tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati. Itulah kisahku di tanah jawa saat menyantap gudeg terlezat dunia dan akhirat.

Aku terhenyak dan kembali ke kamar setelah mengantar mereka sampai ke depan hotel dengan seribu perasaan bahagia. Tuhan, hari ini hamba belajar dari tiga manusia super dan luar biasa yang Engkau hadirkan hari ini, kekuatan kepribadian mereka membuatku terenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang asongan dan menjajakkannya dari bus ke bus dan dari orang ke orang di area terminal.

Tiga anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.


-Nurul ifadah-
Kenali aku lewat setiap karyaku dan berkunjunglah di setiap ruang hidupku karena 24 jam ku buka itu untuk setiap jiwa yang ikhlas untuk terus berjalan, belajar dan berkarya


  

Selasa, 08 Februari 2011

Surat dari Ayah Untuk Libby di Surga

Dear Libby,

Apa kabar Libby ? Akhir-akhir ini ayah kangen dan ingat terus sama Libby, apalagi di negara kita saat ini sedang berjangkit penyakit demam berdarah. Virus yang mengantarkan Libby menghadap Tuhan YME.

Ayah ingat hampir satu tahun yang lalu. Sejak hari Sabtu tgl 19 April 2003, Libby sudah mengeluh kurang enak badan, ayah langsung membawa Libby ke dokter specialis Libby di Mall Ambassador hari itu juga untuk mendapatkan perawatan. Dokter waktu itu menyatakan bahwa Libby sakit radang tenggorokan.

Walaupun sudah agak membaik, hari Senin 21 April 2003 Libby tidak sekolah dulu agar bisa beristirahat dan lagipula besok Libby akan perform ballet untuk pertama kalinya. Ketika ayah pulang kantor, Libby sangat excited untuk segera perform ballet besok harinya. Ayah juga ingat Libby tunjukkan semua costum yang telah dimiliki. Kamu memang sangat-sangat menyenangi ballet. “Ayah lihat Libby perform besok kan ?” tanya Libby pada ayah, yang ayah langsung jawab iya.

Keesokan harinya tanggal 22 April 2003, Ayah sengaja mengambil cuti agar bisa leluasa hadir ke performance ballet Libby yang pertama. Pk 6.15 Ayah mengantarkan Libby sekolah, sepanjang perjalanan Libby terus berbicara mengenai performance ballet (suatu ritual yang hampir setiap hari ayah jalani bersama Libby ketika Libby sudah mulai TK di Lab.School Rawamangun). Karena hari itu cuti, ayah pun bisa menjemput Libby ketika pulang sekolah pk 11.30, Libby sangat senang ayah jemput karena tidak biasa-biasanya ayah bisa jemput kamu. Dalam perjalanan pulang Libby bertanya sama ayah, “Ayah, siapa Kartini itu?” lalu ayah jawab “Kartini itu seorang putri yang berjasa pada kaum wanita makanya diperingati sebagai hari Kartini”. Kemudian Libby bertanya lagi “kok putri tidak pakai baju Cinderella” (Libby tahunya gambaran Putri adalah seperti yang digambarkan dalam karakter Disney).

Ayah berusaha menjawab semua pertanyaan Libby dengan sebaik mungkin. Bahkan sampai pada pertanyaan “Kartini itu sudah meninggal ya ayah?”, ayah jawab iya. Libby masih terus memborbardir ayah dengan pertanyaan, “Kalau Libby mau diperingati harus meninggal dulu ya yah? Ayah agak bingung juga menjawabnya, namun akhirnya ayah jawab “tidak perlu karena ada juga yang masih hidup sudah diperingati” .

Pertanyaan itu tadinya hampir tidak ada artinya kecuali contoh lain dari curiosity kamu yang sangat tinggi, namun belakangan ayah mulai menyadari bahwa mungkin ini adalah firasat tepat seminggu sebelum kepulangan kamu ke Tuhan YME.

Ketika perform ballet, ayah ingat Libby kelihatan masih lemas, belum lagi beberapa teman kamu tidak menari dengan baik sehingga secara keseluruhan penampilannya tidak terlalu menggembirakan. Kamu yang sangat perfectionist kelihatan sangat kecewa dengan penampilan kelompokmu yang kurang kompak.

Ketika pulang, Libby kelihatan agak murung, ayah terus menerus berusaha untuk menghibur Libby dengan mengatakan bahwa performance- mu cukup baik. Tapi tidak dapat ditutupi bahwa Libby kecewa sekali. Hari Kamis malam, Libby panas lagi sampai 40 derajat. Tanggal 25 April 2003, Libby ulang tahun yang ke-5, kamu masih sakit sehingga tidak masuk sekolah. Ayah dan Mommy kembali membawa kamu ke dokter, dokter mengatakan bahwa jika sampai Senin belum turun juga panasnya, Senin harus diambil darah.

Tanggal 26 April 2003, Libby merayakan pesta ulang tahun yang ke-5 di McDonald Arion. Libby sudah mulai turun panasnya hanya masih kelihatan lemas. Pesta ini adalah permintaan pertama Libby karena biasanya ulangtahunmu hanya dirayakan di sekolah dengan membawa kue ulang tahun saja. Entah kenapa Libby menginginkan pesta di McDonald lengkap dengan badut-nya. Ayah minta maaf sama Libby karena terlambat mengurusnya, badut yang diminta kamu tidak bisa hadir di pesta, ayah tidak tahu bahwa McD tidak memperbolehkan badut dari luar.

Libby kelihatan kecewa dengan ketidakhadiran badut itu karena ternyata kamu sudah bercerita pada teman-temanmu bahwa di pestanya akan ada badut teletubies (Ayah sangat-sangat menyesal tidak bisa memenuhi permintaan Libby, maafin ayah ya Liv…).

Libby ngomong, “badutnya nggak bisa datang ya, yah? Gimana ya nanti Libby dibilang pembohong sama teman-teman. Tapi nggak apa-apalah teman-teman pasti ngerti”. Libby adalah seorang yang sangat patuh terhadap janji, kamu tidak mau mengecewakan orang lain.

Pulang dari pesta Libby kelihatan sakit lagi, ayah mencoba untuk menghibur kamu dengan melakukan kompres dan lain-lain, panas kamu tidak turun-turun, hadiah yang banyak pun hampir-hampir tidak kamu sentuh, hanya saja ada percakapan kita yang ayah masih sangat ingat. Libby ingat nggak ketika ayah tanya “Liv, uang yang dari nini kan banyak, mau dibeliin apa sama Libby, beliin mainan ya!?” Libby malah bilang sama ayah “Ayah, mainan Libby udah banyak sekali…bahkan sebagian mau Libby kasiin ke orang miskin, kasihan kan mereka nggak punya mainan… Libby mau kirim bunga yang banyak sekali untuk nini..Nini pasti seneng…”

Ayah kaget denger jawaban Libby tapi sama sekali tidak menyangka apa-apa..belakangan ayah baru sadar ini adalah tanda-tandamu yang lain karena waktu sebelum pemakaman ternyata rumah nini tempat kamu disemayamkan dipenuhi oleh bunga-bunga yang bersimpati sama kita.

Libby ingat nggak hari Minggu ayah dan Mommy bawa Libby ke rumah sakit Bunda untuk diambil darah karena ayah tidak mau nunggu lagi sampai hari Senin. Ayah ingat Libby minta ayam A&W dan minuman Fruity strawberry, ayah seneng sekali Libby minta makan karena sudah dua hari ke belakang Libby susah makan. Libby nggak pernah mengeluh sakit perut cuma mengeluh pusing saja dan mual.

Besoknya mommy membawa hasil test darah ke dokter lagi, trombosit kamu masih 149.000. Kata dokter Libby terkena gejala Thypus dan disarankan untuk istirahat dan banyak minum. Sore harinya panas Libby sudah mulai turun, ayah senang sekali pada saat itu, bahkan ayah telepon ke Bandung untuk memberi tahu bahwa Libby sudah turun panasnya, cuma pada saat itu Libby masih sangat lemas dan masih muntah.

Ayah pikir Libby sudah mendingan. Malamnya ternyata Libby terus mengigau dalam tidur, ayah, mommy dan uti nggak berhenti berdoa, kita putuskan untuk membawa kamu ke dokter lagi first thing in the morning. Sama sekali tidak terbersit dalam pikiran ayah bahwa Libby mungkin sudah mulai didekati oleh malaikat. Panas kamu sudah turun sekali ke 36 derajat.

Keesokan harinya Libby dianter sama mommy dan uti ke dokter lagi, di dokter menurut mommy trombosit kamu sudah turun ke 59.000 dan langsung diperintahkan untuk masuk rumah sakit. Mommy membawa kamu ke RS Mitra Jatinegara karena kata dokter, disana PICU (ICU anak-anak) nya cukup baik.

Kata Mommy, dalam perjalanan ke RS, kamu masih minta mie dan pisang. Mommy ingat di dalam mobil Libby ngomong, “Ma, kok orang-orang itu tidurnya aneh ya?” Mommy nggak bisa jawab cuma bilang, “Libby kuat ya….” sampai di rumah sakit Libby sudah nggak sadar, ketika ditaruh di bed gawat darurat, Libby langsung kejang dan pergi untuk selamanya sebelum dokter sempat melakukan pertolongan apa-apa.

Ayah minta maaf ya Liv nggak bisa nememin kamu pulang ke rumah kamu di surga. Ayah ngerasa bodoh sekali malah ikut meeting di kantor ketika kamu sedang berjuang dengan maut. Tapi memang jalannya sudah harus begitu, ayah rela Libby pulang ke rumah pemilik Libby karena ayah hanya diberi kesempatan untuk merawat Libby selama tepat lima tahun.

Mommy sekarang sedang hamil lagi, Adelle sudah mulai cerewet, maunya sekarang pake baju punya Libby terus. Kemarin-kemarin dia terus berbicara mengenai kamu, Libby datang ke mimpinya Adelle ya?? Ya udah dulu ya Liv, ayah harus kerja dulu. Ayah mau buat surat buat teman-teman ayah biar mereka belajar dari pengalaman kita.

Cium sayang

Ayahmu: Dicky
sumber: Cerita ini disiarkan Radio Delta dan juga dimuat di beberapa tabloid Ibu Kota.

Surat ini dibuat oleh seorang ayah untuk anaknya yg sudah meninggal dan bukan rekayasa.

Kamis, 28 Agustus 2008

Belajar dari Seekor Kucing


Hari ini 28 Agustus 2008. Tanpa sengaja aku melintas di sebuah jalan di kota Makassar. Hari ini sebenarnya aku dan sahabatku akan mengikuti sebuah seminar nasional di salah satu hotel di kota ini. Tapi sayang perjalanan kami harus tertunda karena ban motor yang kami tumpangi mendadak bermasalah. Aku dan sahabatku akhirnya memutuskan untuk mencari bengkel dan menapakkan kaki menyusuri jalan yang begitu panjang. Aku sebenarnya menyesali kejadian ini, karena kami berdua sangat berharap kami bisa ikut seminar yang salah satu pembicaranya adalah seorang penulis novel terkenal. Tapi kami tak mampu berbuat apa-apa kecuali mengelus dada dan mengatakan kalau kami tak bisa datang ke seminar itu tepat waktu atau mungkin tak akan bisa menghadiri seminar tersebut walau sebuah tiket seminar telah ada dalam genggaman kami.
            Di bawah terik matahari yang lumayan menyengat sambil menuntun motor dengan ban tanpa angin itu, sahabatku menoleh ke arahku dan tersenyum lalu berkata “Bukan Rezeki”. Aku tahu bahwa jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia pun sangat kecewa sama seperti aku. Namun aku berusaha untuk tetap bersabar dan membalas senyumannya lalu mengatakan “Tuhan punya rencana lain.” Kami berdua mengangguk dan tersenyum berusaha menikmati hiasan perjalanan kali ini. Sejenak terlintas dalam pikiranku, mungkin inilah malaikat yang berusaha menguji kesabaran kami. setelah berjalan cukup jauh, akhirnya langkah kami terhenti pada sebuah bengkel bertuliskan “PRESS BAN DALAM”. Sambil menunggu motor dikerja, aku dan sahabatku berteduh di bawah pohon di sekitar bengkel itu. Kuhapus keringat yang mengucur di sekujur tubuhku setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Kami duduk di sebuah kayu besar  sambil mengamati keadaan di sekitar tempat kami berada hari itu.
            Sebuah suara ramai menyusup mengetuk dinding indera pendengaran kami. Aku berusaha menengok ke segala arah untuk mengetahui sumber suara tersebut. Tiba-tiba mataku berfokus pada sebuah pekarang rumah yang tak jauh dari tempat kami duduk. Seorang pria dewasa terlihat sedang menyiksa seekor kucing yang mulai lemah. Orang-orang di sekelilingku nampak acuh tak acuh dengan apa yang pria itu lakukan. Sahabatku mencoba bertanya ke seorang pemilik bengkel yang tengah mengotak-atik ban motor di hadapannya.
            “kok bapak itu tega menyiksa kucing itu pak?”
            “kucing itu dulu waktu masih kecil didapat oleh anak bapak itu terperangkap di pagar depan sana di tengah hujan deras.  Anaknya membawa kucing itu pulang, mengobati, merawat dan memberinya makan sampai hari ini. Tapi katanya setelah besar kucing itu setiap hari buang kotoran bahkan muntah di dalam rumah. Makanya bapak itu emosi dan hampir setiap hari menyiksa kucing itu.”
Aku sangat tercengang mendengarkan penjelasan pemilik bengkel yang berusaha menjelaskannya dengan sempurna. Spontan aku hati dan lisanku berpadu menyebut lafaz istighfar memohon ampun kepada Allah atas apa yang aku lihat hari ini. Hatiku bergumam, bukankah kucing itu adalah binatang? Bukankah kucing tak memiliki akal seperti manusia? lalu aku mencoba menangkap sesuatu yang mungkin tak terpikirkan oleh orang lain. Bahwa sejatinya hari ini aku harus belajar dari seekor kucing. Aku merasa bahwa apa yang baru saja aku lihat adalah sebuah peringatan yang justru harus kutujukan pada diriku sendiri. Aku menangkap bahwa sejatinya kejadian ini adalah upaya Tuhan untuk mengajarkanku mengenal-Nya dan menyadarkanku tentang hal itu dari kucing tersebut. Sama seperti kucing yang baru saja kulihat tersiksa, bahwa Allah telah menghadirkan manusia ke muka bumi ini. Dia merawat manusia yang bermula dari keadaan yang begitu lemah. Lalu Allah melindungi manusia, merawat dan memberi segala kebutuhan manusia untuk tumbuh dan berkembang. Tetapi setelah begitu banyak kebaikan dan nikmat dari Tuhan yang kita rasakan, kita menjadi durhaka kepada-Nya dan tidak lagi peduli dengan perintah-Nya. Bukankah manusia yang seperti itu sama saja dengan sikap kucing yang disiksa oleh pria itu? tapi Allah tidaklah seperti pria itu yang tega menyiksa peliharaannya. Tuhan selalu memberi kita kesempatan atas kesalahan kita dan tidak serta merta memukul kita dengan Azab-Nya.
            Kini aku tahu mengapa Tuhan membawaku berjalan hingga ke tempat ini. Aku sadar bahwa hari ini aku kehilangan kesempatan untuk ikut seminar yang menurutku luar biasa dan bergensi, tapi aku mengangguk dan mengatakan pada diriku sendiri, bukankah hari ini aku telah menghadiri sebuah seminar yang Maha Luar biasa? Hari ini Allah langsung yang menjadi pemateri untuk mengajarkanku tentang sebuah perenungan hidup mengenali diriku sebagai manusia. Hari ini, dari seekor kucing, aku belajar melihat dan mengenali makhluk bernama “Manusia” 

Kamis, 21 Agustus 2008

Mengapa Ibuku Begitu Penting


Dua hari sebelum milad ibuku yang 46 tahun, seorang sahabat datang padaku dan mengeluhkan semua perlakuan ibunya. Ia merasa tak nyaman dengan sikap ibunya yang kolot dan ketinggalan zaman (maaf itu kata sahabatku. Bukan kataku J). “Eh kamu tau nggak aku marah pada ibuku yang seenaknya saja melarangku ini dan itu. padahal aku sudah besar. Aku sudah tahu yang mana yang baik dan yang mana yang salah. Rasanya aku ingin bebas dan pergi jauh dari ibu.” Aku hanya berani menjadi pendegar setia buatnya. Setelah hari itu, sahabatku tak lagi pernah menemuiku. Akupun tak tahu kemana dirinya di telan rimba
Beberapa hari setelah kedatangannya padaku, aku mendengar dari salah satu kerabatnya bahwa ibu sahabatku itu terbaring sakit di Sebuah Rumah sakit. Aku segera ke RS tersebut dan menjenguk ibunya. Seorang ibu yang renta kini terbaring sakit di hadapanku. Aku mengusap tubuh rentanya dengan hati yang menangis. Aku memang tak pernah tega melihat orang kesakitan. Sedangkan aku tak melihat anak semata wayangnya menemani di sisi pembaringannya.
Beberapa saat di kamar perawatan itu, ibu yang terbaring sakit tersebut terbangun. Beliau tersenyum padaku dan memintaku duduk di sampingnya. Kemudian dia bercerita:
“Dulu, ketika ibu menikah, tidak pernah berpikir punya anak seperti apa, gimana jaganya, biayainya sekolah hingga lulus kuliah nanti… tapi ibu jalani saja…

Ketika melahirkan dirinya, ibu hampir menyerah, tapi demi melihatnya lahir ke dunia ini, tumbuh besar dan menjadi anak yang berguna, ibu terus berjuang, walaupun harus berkorban diri ini demi kehadiran dirinya di dunia ini…

Dia telah lahir ke dunia ini, pertama kali melihatnya, ada perasaan bergejolak dalam diri ibu, ibu terharu dan bangga sekali bisa membawanya ke dunia ini, ibu berjanji, apapun yang terjadi, gimanapun susahnya hidup ini, anak ini harus ibu besarkan dengan kedua tangan ibu…

Tidak mudah untuk membesarkan dirinya, dia bandel sekali ketika kecil, suka bermain lupa waktu, berteman dengan anak-anak nakal, tidak mau makan, susah disuruh mandi, susah dibujuk tidur waktu malam hari, kadang dia marah dan bentak ibu, kadang dia mengejek ibu, kadang juga dia menghina ibu…

Ketika besar, dia merasa ibu terlalu membatasi dirinya, ini tidak boleh, itu tidak boleh, dia juga merasa ibu terlalu kolot, ketinggalan jaman, tidak mengerti apa maunya, tidak setuju terhadap setiap kelakuannya…
Kadang sakit hati sekali ibu ini, tapi ingat ketika pertama kali menggendongnya, ketika melahirkannya, semua sakit ini hilang seketika… dia adalah anak ibu, anak kesayangan ibu…

Ibu telah berjanji akan membesar dirinya, apapun yang terjadi, rintangan apapun yang ibu hadapi, karena dia anak ibu satu-satunya… Harapan ibu besar kelak dia bisa menjadi anak yang berguna… ibu sangat mencintainya…
Dualah, yang memberikan kekuatan pada diri ini, membuat ibu mau bekerja keras pagi-siang-sore-malam, tidak takut akan sakit, derita.. Karena kehadiran dirinya lah membuat ibu ada artinya, bisa membesarkan dirinyya dan mendengarkannya memanggilku IBU, sungguh senang rasanya hati ini…

andai dia ada di sini, ibu cuma ingin bilang,
Ibu tidak berharap banyak, hanya suatu saat, ketika dirimu sudah besar, kamu dapat menjadi anak yang baik, bisa hidup yang enak. Ibu mungkin sudah tua, tidak bisa hidup lama lagi, badan ibu ini sekarat, kerutan muka sudah banyak, perjalanan ibu tidak lama lagi.
Jika kamu bekerja keras, tidak perlu sampai memberikan rumah yang bagus, uang yang banyak, semuanya itu untuk dirimu saja. Ibu hanya berharap kamu mau menyisihkan sedikit waktumu untuk menemani masa-masa tua ibu, bisa disamping ibu dan ngobrol dengan ibu, itu sudah lebih dari cukup…

Ibu Bangga denganmu, nak, mungkin tidak pernah terucap lewat kata, tapi ini ibu rasakan dari lubuk hati yang dalam… Maafkan jika selama ini ibu pernah marah denganmu, memukulimu, melarangmu ini itu, semua ini demi kebaikanmu, nak…
Seandainya dia ada disini ibu Cuma mau bilang
"Ibu Cinta padamu… dari dulu, sekarang, dan selamanya…”

Aku melihat air mata seorang bunda menetes. Air matakupun tak tertahankan. Aku larut mendengarkan cerita itu. Mulai hari itu aku berjanji untuk menyayangi ibuku apapun yang terjadi. Aku tak akan bisa membiarkan ibuku berada di posisi ibu sahabatku itu. Aku ingin menjadi anak yang bisa selalu melihat surga itu tersenyum bangga telah melahirkanku kedunia. Aku ingin ibuku bahagia karena telah memiliki aku. 

Aku berjanji pada Tuhan akan menjadi anak selalu bisa menciptakan senyum dihati ibuku. Karena aku tahu bahwa aku tak akan pernah bisa membalas seluruh pengorbanan ibuku yang begitu besar. Setidaknya aku tahu bahwa aku tak boleh menyakitinya.

Aku tahu bahwa ibuku menyayangiku lebih dari aku menyayanginya.

Tuhan… Aku sayang ibuku :’)

Dariku untuk seluruh mengetuk pintu hati seluruh anak di muka bumi ini
Ayo... kita sujud di pangkuan ibu seraya meminta ampun atas segala dosa yang kita lakukan. ingat, disanalah surga dan kesuksesan kita :')

Jumat, 08 Agustus 2008

Malaikat yang ditelantarkan


Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.

Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.

Saat usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja.

Bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja. Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun………. telah berlalu sejak kejadian itu.

Kini Aku telah menikah kembali dengan Beni, seorang pria dewasa yang mapan. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali sama Mama!”

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,
“Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”
“Nama saya Elik, Tante.”
“Erik? Erik… Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?”

Aku langsung tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala. Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di pikiranku. Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik…sabar ya nak….”

Sore itu aku memarkir mobil biruku di samping sebuah gubuk, dan Beni suamiku dengan pandangan heran menatapku dari samping. “Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu.” tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.

Ternyata Tuhan sungguh baik kepadaku. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari mobil diikuti oleh suami dari belakang. Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter didepan. Aku mulai teringat betapa gubuk itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik….. Erik……

Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun aku tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Aku mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari…… Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, aku pun keluar dari ruangan itu… Air mataku mengalir dengan deras. Saat itu aku hanya diam saja. Sesaat kemudian aku dan suami mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba – tiba aku melihat seseorang di belakang mobil kami. Aku sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!”
Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?”

Tiba – tiba Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mamaaa…, Mamaaa!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan & mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…..”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi…? Mama benci ya sama Erik? Ma…., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji kalau Mama tidak akan benci lagi sama Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, ……”

Aku menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!” Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa Anda tidak terampuni!”
Aku kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

Berulangkali aku membaca kisah ini, dan setiap kali aku membacanya, air mataku menetes. Sejak pertama kali membaca kisah ini, aku menyadari bahwa sepantasnyalah kita menjaga, menggenggam dan menyayangi setiap apa yang Tuhan suguhkan hari ini. karena kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita bisa bersamanya. dalam cerita tersebut seorang ibu telah mengabaikan malaikat yang akan menjemputnya di Surga kelak. Dialah malaikat yang ditelantarkan. Erik adalah manusia cacat yang begitu sempurna :')
Penyesalan selalu datang belakangan. Dan kita baru akan menyadari betapa pentingnya dia yang mungkin saja kita sakiti selama ini saat kita telah kehilangannya.
Jagalah, hargailah.. karena sungguh disadari ataupun tidak, mereka yang ada dekat dengan kita adalah hal yang paling berharga yang Tuhan kirimkan buat hidup kita. jangan sampai kita menyesali hal yang sebenarnya bisa kita cegah  

Rabu, 09 April 2008

Bunuh Diri Karena Depresi

Beberapa tahun yg lalu, seorang gadis berumur 15 tahun bernama Lisa Marie meninggal gantung diri di rumahnya.Dia seorang gadis manis dan tinggal di Michigan. Lima hari setelah kematiannya , ibunya menemukan buku hariannya di kamarnya. Ibunya ingin mengetahui sebab kematiannya.

Berikut adalah isi buku harian tsb :

November 7
Dear Diary, hari ini hari pertama sekolah di Michigan. Pada saat saya masuk kelas, saya diejek murid2 cowok yg menyebut saya org aneh. Inilah awal hari yg buruk.Kemudian bbrp murid cewek cantik dan populer mendatangi saya dan memperkenalkan diri mereka. Mereka mengatakan saya org terjelek yg pernah mereka temui.Saya pun menangis.

Saya lalu pulang ke rumah and menelepon Jake. Saya pikir hari ini akan menjadi lbh baik. Namun dia katakan bhw hubungan jarak jauh tidak bisa bertahan ;sekrg dia tingg al di California. Lalu saya katakan bhw saya mencintainya dan rindu padanya. Tetapi dia mengakui bhw alasan dia pacaran dgn saya adalah krn dia ditantang teman2nya. Dia lalu memutuskan hubungan padahal kami sdh berpacaran selama 2 1/2 thn.

November 9
Saya sungguh rindu pada Jake. Tapi dia merubah nomor telp-nya shg saya tdk bisa menghubunginya. Hari ini seorang cowok populer mengajak saya ke pesta dansa. Kemudian cewek2 cantik kemarin mengajak saya makan siang bersama. Wow, sungguh menyenangkan !

November 10
Saya sdg menangis skrg. Ternyata cowok itu brengsek. Dia menumpahkan minumannya pada baju saya lalu cewek2 itu mengoyak baju saya. Semua org menertawakan saya.Lalu nenek memberitakan bhw papa dan mama tabrakan pagi ini dan mrk dlm keadaan kritis. Saya tdk sanggup menulis lagi.

November 11
Hari ini Sabtu , nenek dan saya di rumah sakit sepanjang malam. Papa meninggal pagi ini. Mama lumpuh seumur hidup. Sewaktu di RS , nenek baru tahu dia diserang kanker perut dan harus dikemoterapi. Saya msh tdk percaya Papa sdh meninggal. Saya sdh capek menangis. Saya letih. Saya hrs tidur.

November 12
Papa tdk meninggal ! Tidak mungkin ! Ini semua hanya mimpi. Hidup saya sempurna. Jake msh mencintai saya. Saya tdk bisa menulis lagi. Saya sdh menangis terlalu lama. Saya ingin mati. Bawalah saya.

Keesokan harinya Lisa ditemukan tewas gantung diri dengan tali berwarna kuning. Lisa diduga depresi. 
Saya ibunya. Nama saya Miranda Gonzalez. Saya menulis email ini agar orang lain tidak mengalami apa yg dialami anak saya. Ingatlah semua orang ingin dicintai dan dipeluk setiap hari.
Tidak ada seorang pun di dunia ini
yang pantas diejek dan dihina atau disingkirkan,
karena keberadaan kita lahir didunia adalah pemberian Tuhan semata
dan bukan suatu pilihan yang bisa kita pilih.

Membaca kisah ini membuatku tercengang. Saya juga pernah bertemu dengan beberapa orang sahabat dalam perjalan saya menapak di lahan tandus mereka.

saya pernah bertemu dengan seorang anak bertangan bunting yang nyaris bunuh diri karena tak tahan dengan sikap orang-orang padanya. Dia mengaku terus diejek dan dikucilkan oleh teman-teman dan orang-orang yang ada di sekitarnya hanya karena tubuhnya yang cacat. Dirinya juga diberi gelar “Anak pembawa sial” hanya karena musibah yang dihadapi keluarganya. Tapi Karena bantuan Allah, Alhamdulillah, saya dan teman-teman berhasil mengembalikan kepercayaan dirinya dengan mengenalkan dia pada potensi yang dimilikinya. Sekarang anak itu telah berhasil menemukan jati dirinya, menghargai dirinya dan mengenal pencipta-Nya. Untuk mengenal dia, Silahkan kenali dia melalui ruang tempatnya berkarya “Fachrul Abimanyu”

Belajar dari orang-orang yang saya temui, saya semakin sadar bahwa STIGMA negatif akan menjadi sugesti terkuat untuk melemahkan bahkan membunuh setiap jiwa yang berharga.