Minggu, 22 April 2012

MENGGUGAT KEPAHLAWANAN KARTINI


Tanggal 21 April, para perempuan dipersada ini ramai-ramai memakai konde dan kebaya. Para Ibu-ibu yang hobi ngrumpi, arisan dan gosip, berusaha tampil seanggun mungkin dibalik kebaya dan konde. Sementara mereka yang sering memakai pakaian yang merangsang (seksi:bahasa gaulnya), turut memaksakan diri menyerupai pakaian Kartini. Memang kebaya dan konde adalah pakaian yang sudah ketinggalan zaman, tapi tetap memiliki daya tarik pada hari tertentu. Para perempuan kemudian menghiperboliskan Kartini, seakan-akan apa yang didapatkan para perempuan hari ini adalah hasil keringat Kartini.
Adalah pertanyaan besar untuk para perempuan, apakah Kartini adalah pejuang? Untuk membahas pertanyaan ini, ada baiknya kita kembali ke sejarah Kartini dan proses pembentukan mitos kepahlawanan yang dilekatkan pada beliau.
Kartini adalah putri bupati Jepara, dan keluarga besarnya adalah keluarga bangsawan. Oleh karena itu, Kartini saat masih ABG mendapatkan akses pendidikan yang besar dibanding perempuan kebanyakan pada zamannya. Setelah melewati fase pendidikannya, Kartini, sesuai dengan budaya feodal, beliau dipersiapkan untuk menikah. Olehnya, Kartini diisolasi. Saat seperti ini kemudian memunculkan kegundahan intelektual dan mencoba untuk berbagi keresahan. Namun sayang, orang pribumi yang berpikir seperti Kartini sangat langka pada zamannya
Kartini kemudian berinteraksi secara intelektual dengan para kolonialis belanda dan menceritakan kegundahannya serta kebobrokan bangsanya. Karena terisolasi, Kartini berinteraksi melalui surat yang kelak dibukukan oleh Balai Pustaka dengan judul Habis gelap terbitlah terang.
Dalam kegundahannya, Kartini bercerita tentang keterbelakangan kaum perempuan dan berharap ada pendidikan untuk kaum perempuan. Kartini sangat menentang poligami, kawin paksa, dan berbagai sistem patriarki yang diselubungi budaya feodal.
Setelah meninggal pada tahun 1905, pada tahun 1938, para kolonialis belanda kemudian mengirimkan kembali surat Kartini kepada penerbit Balai pustaka untuk dibukukan. Ada rentang waktu 33 tahun bagi kolonialis belanda untuk membangun pencitraan Kartini setelah kematiannya.
Harus diakui bahwa Kartini memiliki kegundahan intelektual. Ini wajar terjadi terhadap orang yang pernah merasakan lezatnya dunia intelektualitas kemudian terisolasi dari dunia intelektualitas. Harus juga diakui bahwa Kartini memiliki keprihatinan terhadap kaum perempuan. Namun masalahnya adalah, mengapa Kartini tidak berbuat apa-apa selain berkirim surat kepada kaum penjajah? Kartini bahkan tidak dapat melawan budaya feodal yang dibenci. Tokh titel RA masih melekat didepan namanya. Malah ketika dipaksa menikah, Kartini hanya pasrah pada takdir
Kembali kepertanyaan diatas, jika Kartini memang pejuang, mengapa Kartini tidak melakukan apa-apa selain bersurat kepada kolonialis? Dewi Sartika telah membuat sekolah bagi perempuan tanpa harus berguru kepada Kartini tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Cut Nya Dien, Laksamana Malahayati, Nyi Ageng Serang, telah menjadi pemimpin perjuangan melawan kolonialis tanpa berguru kepada Kartini yang nota bene seorang sahabat kolonialis belanda.
Jika kaum perempuan butuh figur seorang tokoh pejuang perempuan, mengapa yang difigurkan adalah perempuan lemah tak berdaya seperti Kartini, bukan perempuan yang heroik seperti Cut Nya dien. Jika kaum perempuan butuh figur seorang tokoh pendidik perempuan, mengapa yang difigurkan adalah perempuan yang justru bersahabat dengan penjajah, bukan perempuan yang membuat sekolah bagi kaum perempuan yaitu Dewi Sartika.
Terakhir, mengapa ultah Kartini mesti dirayakan sebagai hari perempuan, padahal Kartini sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk perempuan, bahkan dirinya sendiri. Kartini adalah perempuan lemah tak berdaya dan bersekutu dengan penjajah, bukan pahlawan. Tapi sayang, dinegara ini status kepahlawanan tergantung stempel pemerintah, bukan murni perjuangan menentang kolonialis. Di negara ini, sahabat penjajah diangkat pahlawan dan dirayakan ultahnya sebagai hari perempuan.

oleh : A. Rahmat. Munawar....


Rabu, 11 April 2012

HARI ITU, 8-10 APRIL '12


Aku terbangun dengan dering Hendponku yang nyaris tanpa henti. Ku lihat jam di layar hendpon buntutku masih pukul 00.08 dini hari. “2044 pesan baru” terpampang di ponselku padahal baru beberapa jam yang lalu sebelum aku tidur semua SMS di inboxku ku hapus. Ku telusuri satu persatu dan ternyata hari ini adalah 8 april 2012 dan nyaris semua pesan yang masuk adalah pesan yang berisi ucapan selamat milad. yah.. setelah mengusap mata aku tersadar bahwa hari ini adalah Hari dimana lembar sejarah hidupku bermula. 20 tahun sudah aku terlahir di dunia ini. Semakin hari aku semakin berjalan menuju amban batas kehidupan. Sungguh aku tak pernah menyangka bisa hidup sampai hari ini. 5 tahun sudah keraguan seorang dokter terbantahkan olehku. Tapi sudahlah, kututup kisah kelam itu dengan Bismillah. Hehehe. Lanjutkan hidup untuk menggapai purnama surga menuju lorong Ilahi yang sesungguhnya. Amin
          Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku. Sejujurnya, hati ini sangat senang dengan berbagai kejutan dan kebahagiaan yang datang bertubi-tubi bahkan sampai H+2 maksudnya dua hari setelah 8 april. Di tengah perasaan senang itu, seakan muncul kekhawatiran dalam diriku. Aku hanya berdialog dengan batinku dan berkata, “kamu harus bersiap jika sewaktu-waktu harus berhadapan dengan situasi yang berbanding terbalik dengan sikon hari ini.”
          Ribuan ucapan membanjiri ponselku dengan ucapan selamat, begitupun dengan e-mail dan berbagai jejaring sosial di dunia maya. Jika tahun kemarin aku menerima 8 surprice party, yang menghadirkan 8 tart manis dan membahagiakan. hari ini, aku menerima 12 tart dan lebih dari 20 kejutan yang nyaris membuat air mataku habis dan jantungku nyaris copot. Aku juga bingung kok ada yah orang yang mau peduli dengan hari kelahiranku? Padahal seharusnya mereka bisa melakukan hal lain yang mungkin lebih berharga dan lebih bermanfaat buat hidup mereka.

12 Tart hadir di hari miladku
1.     Adzan shubuh belum berkumandang, puluhan sahabatku berdatangan membawa blackforest dengan sebuah lilin merah. Kata mereka, itu karena aku suka dengan warna hitam, putih dan merah.
2.    Saat akan melakukan shalat Dhuha, berbagai kerabat, saudara dan sepupuku datang dengan sebuah tart putih berisi bronis Dark chocolate dengan dua buah lilin merah dengan angka 20 tertancap di atasnya serta dengan ucapan sebagai berikut “today is the lucky day untukmu sang pemberontak” :D
3.    Di kampus teman-teman menjebakku dengan sadis lalu mengejutkanku dengan sebuah tart persegi yang tak asing lagi bagi penikmat roti berlisensi BreadTalk. Uniknya, seseorang yang menyodorkan cake tersebut adalah orang yang selama ini kupikir membenciku. (Maap ya kaka… soalnya dingin sangat pembawaannya ke saya.hehehe.)
4.    Di sebuah tempat makan (Fast Food) seorang adik (Arie) memberiku ucapan selamat dengan sebuah tart mini berbentuk Elmo. So interest.
5.    Masih di tempat yang sama, beberapa sahabatku datang dan menyodorkan sebuah Tart bebentuk hati berwarna coklat. Mereka adalah sahabat berbendera LENTERA
6.    Tanggal 9 april setelah shalat shubuh, saya dikagetkan dengan kehadiran 2 buah tart di teras rumah dengan ucapan masing-masing. Nyaris setiap tahun saya menerima kejutan yang seperti ini. Siapapun yang mengirimkannya, makasih ya..
7.    Malam harinya, junior-juniorku datang membawa sebuah blackforest kotak dan beberapa bingkisan kado. Junior-juniorku ini adalah adik-adikku di dalam KARPET REMAJA
8.    Tanggal 10 april kembali aku dikejutkan dengan surprice dari puluhan teman-teman dan adik-adikku di rumah seorang senior yang hari itu mengundangku meeting untuk membicarakan sebuah rencana pelaksanaan program organisasiku tartnya unik, lucu dan polos. Tapi di antara semuanya, bagiku, tart itu yang paling berkesan. hahaha.
9.    Setelah itu, beberapa langganan konselingku yang selama ini hanya bertemu denganku di dunia maya akhirnya menampakkan diri mereka dengan sebuah tart istimewa dan bagiku sangat mewah saat menghadiri sebuah kegiatan di salah satu hotel di Makassar.
10.  Masih di tempat yang sama, semua orang yang hadir dalam kegiatan itu, kompak ngerjain dan saya baru sadar setelah sebuah tart muncul dalam kegelapan. Terima kasih buat sahabat blogger, tim analisis dan seluruh sahabat lembaga dan yayasanku.

Ada begitu banyak hal yang sangat membuatku terkejut dan bahagia. Beberapa diantaranya adalah ketika seorang sahabat tiba-tiba datang dari luar negeri hari ini.
Kedatangan beberapa orang sahabat yang kutahu bahwa hari sebelumnya mereka berada di luar daerah yang jaraknya cukup jauh dari tempatku berada hari ini. Tanpa harus GR dia dan mereka bilang padaku, kedatangannya telah direncanakan untuk hari ini.
Selain itu, sungguh sesuatu yang sama sekali tak pernah terbayangkan, beberapa orang pejabat daerah dan petinggi negeri ini ikut memberiku ucapan via message, Vidio Call dan calling langsung.
Ada lagi yang seru, seorang kakak yang sekolah di negeri paman sam USA mengirimkanku sebuah buku yang berjudul “Manusia Langka, perlu dilestarikan” yang ditulisnya sendiri dan hanya dibukukan sebanyak 2 buah.” So extra ordianary…!
Dan berbagai kejutan lainnya yang sangat panjang bila aku tuliskan hari ini.

Hari ini 11 April 2012 dimana aku mengabadikan kisah ini dengan menuliskannya.. kayaknya aku mulai kelelahan ngetik, so sudah dulu ya… tetap semangat…!!

Jumat, 20 Januari 2012

Kisah Sang Pembela hak Anak. Kak Seto


Tokoh yang kerap kali muncul di media membela hak anak-anak ini lebih akrab dipanggil Kak Seto. Ia lahir bukan dari keluarga ningrat yang serba kecukupan. Bukan pula dari keluarga terkenal yang bisa mendongkrak popularitas layaknya tokoh-tokoh lain. Kak Seto mampu mebuktikan kepada publik, bahwa ia menjadi tokoh lantaran Keihlasan dan konsistensinya dalam memilih jalan hidup. Penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri pernah diraihnya. Hingga saat ini, tak seorangpun meragukan kegigihan perjuangannya dalam membela hak anak-anak.


Di wajahnya, kak Seto selalu menebarkan senyum. Puluhan wartwan ia layani dengan sepenuh hati. Orang dewasa saja merasa senang dengan gaya Kak Seto yang bersahabat, apalagi anak-anak.
Figur, gaya, keihlasan dan karakternya memang sangat cocok dengan dunia anak-anak. Apa yang dimiliki Kak Seto semua mendukung citranya bergelut di dunia anak-anak. Belum nampak sosok yang lain seperti Kak Seto yang peduli dengan dunia anak-anak. Kalaupun ada, mungkin hanya sosok dermawannya yang menonjol, tetapi belum tentu figurnya mendukung untuk mencintai anak-anak. Kalau Kak Seto, semua yang ada pada dirinya memang betul-betul medukung.
Kisah Perjalanan Hidup Kak Seto
Menyimak jalan hidup Kak Seto memang penuh aral melintang. Masa kecilnya memang dilalui dengan keceriaan, bernaungkan kasih sayang dari kedua orang tua yang teramat perhatian. Sang ibu, Mariati, begitu sabar mencurahkan cahaya kasih, benih nilai-nilai moral yang ditanamkan oleh bunya kelak menjalar menghiasi tingkah laku Figur kelahiran Klaten 28 Agustus 1951 ini.
Namun keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Keluarga Kak Seto ditempa tantangan hidup yang maha berat, terutama saat ia harus mempertahankan pendidikan setelah ayahnya, Mulyadi Effendi, meninggal.
Saat itu, Kak Seto berusia 15 tahun, nasibnya memang benar-benar bak di bawah kolong jembatan. Kepergian ayahnya yang begitu cepat membuat roda ekonomi keluarganya berubah seratus delapan puluh derajat. Dari kecukupan menjadi serba kekurangan.
Musibah boleh saja datang, namun, putus asa tidak boleh mendera terlalu lama. Kak Seto merantau ke Surabaya, di asuh oleh bibinya, Martiningrum. Syahdan, berkat bantuan seorang pastur, ia berhasil masuk di sekolah orang gedongan, SMA St. Louis. Ia sangat bersyukur bisa diterima, kendati ia merasa sedih.
Bagi Kak Seto, pertolongan bibi dan menjadi siswa SMA St. Louis bukanlah pil mujarab yang bisa mengubah nasibnya. Namun, Kak Seto sadar dua hal ini bisa menjadi titik awal perjuangaanya merubah nasib. Surabaya menjadi lapangan untuk menempa ilmu dan pengalaman, serta tempat untuk mengawali perjuangan.
Pertama masuk SMA, Kak seto dan saudara Kembarnya, Kresno, menggunakan celana pendek, seragam mereka sewaktu di SMP, “maklum saat itu saya belum mampu membeli seragam” tutur Kak Seto. Meskipun demikian, Kak Seto tidak menjadi rendah diri dan tetap menjaga harga diri.
Figurnya yang bersahabat membuatnya cepat menyesuaikan diri dengan khalayak, dalam waktu singkat saja, Kak Seto sudah mempunyai banyak sahabat. Ia mudah bergaul, sehingga disukai banyak teman-temannya. Wajar saja jika ia berhasil merebut kursi nomor satu di organisasi sekolah, Kak Seto berhasil menjadi ketua OSIS, sedangkan saudaranya menjadi sekretarisnya.
Setiap hari, Kak Seto pulang dan pergi ke sekolah berjalan kaki. Jangankan untuk transport, uang jajanpun tak ada. Saat semua temannya asyik menikmati makanan di kantin, Kak Seto hanya bisa melihat mereka sambil menahan lilitan perut yang keroncongan. Saat bel masuk berbunyi, terkadang banyak sisa bakso dan makanan ringan yang tidak dimakan oleh pemiliknya “saya langsung menghampiri sisa bakso itu, dan langsung melahapnya, terkadang penjual memberi tambahan sedikit” Kak Seto mengaku.
Uang hasil kerjanya tidak cukup untuk membeli bakso. Sembari sekolah, Kak Seto bekerja sebagai pedagang asongan, penjual koran, tas anyaman dan balon. Kak Seto bersedia bekeja apapun asalkan halal dan bisa sambil bersekolah. Selain berdagang, Kak Seto juga produktif menulis rubrik khusus bagi anak-anak majalah Bahagia dan majalah Kuncung. Dalam tulisan-tulisannya, ia selalu menggunakan nama “Kak Seto”. dari situlah nama Kak Seto lebih dikenal dari nama aslinya, seto Mulyadi.
Di Surabaya Kak Seto tumbuh sebgai remaja yang sudah biasa tertempa tahan dengan segala kesulitan dan penderitaan. Ia merasa ketegaran dan daya juangnya yang tak kenal lelah menghadapi berbagai rintangan berkat dorongan Ibunya. Saat ditanya siapa yang paling berpengaruh dalam pembetukan karekternya itu, Kak Seto menjawab “Ibu dan Soekarno”.
Merantau Ke Jakarta
Sifat pantang menyerah ini terus terbawa hingga dewasa. Setelah lulus dari SMA, Kak Seto mencoba mengais rejeki di Jakarta. Ijasah SMA dan uang honor tulisan menjadi modal, sedangkan semangat dan do’a menjadi bekal.
Hijrahnya ke Jakarta, 27 Maret 1970, seolah menjadi hari lahir yang kedua baginya. Disana ia menaruh harapan dapat merubah nasibnya. Kak Seto tidak ingin keturunannya nanti tertempa derita bukan kepalang seperti dirinya saat ini.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Barangkali begitulah perumpamaan yang tepat bagi Kak Seto. Di Ibukota, ia menyusuri perkantoran Jl Thamrin dan Jl Sudirman. Puluhan kantor ia masuki dengan berjalan kaki bertemankan kucuran keringat dan terik matahari. Berharap ada lowongan, namun semua itu hanya utopia belaka. Ibukota memang kejam.
Hingga suatu saat, ia menemukan pekerjaan senbagai tukang parkir di Blok M. Profesi ini ia jalani dengan sabar dan tekun, meskipun kulitnya semakin terbakar oleh matahari, belum lagi menghadapi ulah preman yang selalu menggangunya. Selain tukang parkir, Kak Seto juga pernah menjadi kuli bangunan.
Kegigihan Membela Hak Anak
Kecintaan Kak Seto terhadap dunia anak sebenarnya sudah lama tertanam dalam dirinya, ketika ia mendapat seorang adik, Arief Budiman. Namun sayang, adik tercintanya berusia singkat. Hingga suatu saat, ia bertemu dengan pak kasur. Kak Seto sengaja menemuinya setelah melihat acara televisi yang dipandu oleh Bu kasur. Setelah bertemu, “saya ingin membantu bapak meskipun tanpa di gaji” tutur kak seto. Akhirnya pada tanggal 4 April 1970, ia resmi membantu kegiatan Pak Kasur.
Pada tahun 1972, atas saran pak Kasur, ia mendaftarkan diri di Fakultas Psikologi UI. Tak disangka, ia diterima dan jadilah Kak Seto menjalani hari-harinya sebagai seorang mahasiswa. Selain kuliah, menjadi guru TK, ia juga mengasuh anak majikannya serta menjadi pembantu keluarga Soeksmono Martokoesoemo.
Kecintaannya terhadap anak semakin meningkat bersamaan dengan ilmu yang ia timba dari UI. Saat menjadi mahasiswa baru, ia dinobatkan sebagai “mahasiswa yang paling disukai’, mengalahkan saingan-saingannya yang lebih senior. Hal ini membuktikan pribadi Kak Seto yang supel dan mudah bergaul.
Setahun setelah diwisuda, 16 Juni 1982, Kak Seto mendirikan TK. Mutiara Bangsa di Jl. Muhammad Yamin no 45 Menteng. Begitu tahu yang mengelola sekolah tersebut Kak Seto, maka mereka yang tinggal di kawasan Menteng berlomba-lomba memasukkan anaknya ke TK Mutiara bangsa.
Belum puas hanya di situ, Kak Seto menggagas Istana Anak-Anak Indonesia (Children Center) di TMII. Kak Seto tidak menyangka, proposalnya akhirnya disepakati oleh Ibu Tien Soeharto. Kemudian Kak Seto diangkat sebagai penanggung jawab pembangunan tersebut. Dan pada tahun 1986 diresmikan oleh presiden Soeharto.
Puncak kariernya semakin melejit setelah Kak Seto terpilih menjadi Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak. Sedikitpun tidak pernah terbesit, kak seto memenangkan pemilihan ketua bergengsi tersebut. Ia dicalonkan secara mendadak oleh UNICEF, bersaing mengalahkan Arist Merdeka Sirait, DR, Nafsiah Mboy, Dr. Suryono, MPh. Meskipun demikian, ia tetap rendah hati.
Dunia telah menjadi saksi dua hal atas diri Kak Seto. Pertama, ketabahan dan semangatnya menghadapi hidup. Kedua,kegigihan dan konsistensinya membela hak anak. Kak Seto terus membela anak dan tidak pernah beralih ke dunia lain yang mungkin lebih banyak memberikan materi.
Saat ini, dunia melihat keberhasilannya. Ia menjadi tokoh pembela hak anak yang terlahir dari jalanan. Perjuangannya keluar dari tempaan derita membuat dirinya ramah kepada siapapun, dan bahkan sangat bersahabat. Ketika tabloid Masjid Nusantara mewawancarainya di atas perahu boat yang melintasi genangan banjir di komplek perumahannya, semua warga disapa satu persatu dengan senyum bersahaja nan tulus, tidak senyuman yang dipaksakan seperti calon pejabat di musim kampanye, bukan pula senyum bernuansa sinis dan arogan demi membangun citra.(sumber : Tabloid Masjid Nusantara)

Selasa, 06 Desember 2011

ISLAM YANG AKAN SELALU KU BELA



Media massa kini telah menggencarkan sebuah berita
Tentang penyerangan terhadap Ahmadiyah
3 orang tewas, dan yang lain luka-luka
Mereka memberitakan bahwa Ahmadiyah diserang oleh ORMAS ISLAM
Dunia seakan gempar…Membentuk sebuah OPINI
Bahwa ISLAM adalah agama yang RADIKAL
Menjerit hatiku mendengarnya
Ku rasakan bahwa seumur hidupku
ISLAM Adalah Agama yang begitu santun dan Indah
Dengan teladan MUHAMMAD yang tak pernah menyelesaikan masalah dengan kekerasan Kecuali PERANG
Yah… itulah yang ku tahu… tentang ISLAM yang akan selalu ku bela
Ahmadiyah katanya adalah Agama yang mengaku ISLAM
Benarkah Ahmadiyah adalah ISLAM..?
Bukankah telah ada SKB dari para Menteri yang berwenang?
Lalu mengapa tak ada kejelasan tentang masalah ini?
Telah panas kuping kami mendengar penistaan agama
Telah sakit hati kami mendengar adanya Nabi setelah Rasulullah SAW
Telah teruji kesabaran kami mendengar adanya kitab selain Al-Quran
Ingin rasanya ku berteriak kepada Pemerintah
Yang masih saja menggunakan alat LIBERALIS
HAM (Hak Asasi Manusia)
Yang membuat semuanya seakan tak adil
oleh mereka yang berusaha menegakkan dan membela ISLAM
Dan perlindungan oleh mereka yang seharusnya diadili
Apapun Ketetapan para penguasa,
ISLAM –LAH YANG AKAN SELALU KUBELA

(FEBRUARI 2011, Setelah Penyerangan terhadap AHMADIYAH)

Senin, 05 Desember 2011

AKU SAJA MUAK… BAGAIMANA DENGAN TUHAN?


Ku lihat merah putih telah memudar
Terkena sengatan matahari yang begitu menyengat
Tak lagi merah dan putih… warnanya kini telah memudar
Karena panas yang menyengat Dan debu yang menghias
Merah putihku nampak lesu di ujung tiang
Tanpa kibaran, bagai tanpa semangat.
Di ujung sana… Kulihat begitu banyak penghianat, Begitu banyak penindasan
Aku saja muak, bagaimana dengan Tuhan?
Sebelum datangnya azab…
Ku berusaha mengintip melalui celah dalam kegelapan, Ku mengetuk di balik pintu-pintu mereka
“Masih adakah yang terbangun di kegelapan ini..?”
Tapi tak satupun merespon bisikanku
Ku mohon bantu aku sesegera mungkin Menggotong indonesiaku
Jauh dari dari pantai yang nampak indah ini …
Karena ku tahu sebentar lagi akan ada tsunami
Ku takut luapan dan goncangan menenggelamkan Indonesiaku
Ku mohon bantu aku bersuara Untuk membangunkan indonesiaku dari tidur nyenyaknya
Di alam nan indah di kaki gunung merapi ini,
Karena ku tahu, sebentar lagi akan ada letusan dan erupsi
Ku takut debu dan kabut perlahan menyesakkan dada ibu pertiwi
Semua karena alam telah murka
kepada para pengkhianat dan para pengumpat
Mungkin juga kepada kita yang telah terlena oleh dunia
Lupa akan agama, dan tak sadar akan keberadaan Sang Pencipta
Aku saja muak, bangaimana dengan Tuhan?

(Senin 7 Februari 2011, muak dengan kondisi indonesia yang serba abu-abu)
(masalah century, korupsi, kemiskinan, Ahmadiyah Vs ISLAM, mafia dll adalah wahana para peguasa untuk bermain... bukti kematian Nurani.. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…)
(NURUL IFADAH. L (NUNU)

Selasa, 29 November 2011

Air Mata di Atas Garuda Menuju Nusakambangan

Beberapa pekan yang lalu, Aku melakukan perjalanan dengan Pesawat Garuda Airbus-A330-243 aircraft bersama beberapa teman menuju ke Jakarta. Di sampingku duduk seorang perempuan dewasa yang berusia kira-kira 40 tahun. Saat aku tersenyum padanya, dia membalas senyumku, ternyata beliau adalah seorang dokter di RSCM dan tak lama kami terlarut dalam obrolan ringan.
Dokter, ada acara apa di Makassar?”, tanya ku pada Dokter yang terlihat sumringah di sampingku.
“Oh… saya
transit di makassar dari Gorontalo jemput ibu. Ini mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin adik ke-2”, jawab dokter itu.
”Wow, hebat sekali
adik ke-duanya dokter”, aku menyahut dan terdiam sejenak melihat orang tua yang sudah berumur duduk di samping dokter tersebut yang ternyata adalah ibunya.

cukup lama aku merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu yang membuncah dalam benakku, aku melanjutkan pertanyaan.
”Kalau saya tidak salah,
yang di Singapura tadi, adik ke-2 ya Dok? Kalau boleh tahu Saudaranya Dokter berapa, ayahnya dokter sudah tidak ada?”
Oh ya tentu boleh sayang”, Dokter tersebut tersenyum lalu bercerita:
Ayah meninggal dunia sejak kami masih kecil. Saat itu adik bungsunya dokter masih berumur 3 bulan. Saya adalah anak ke-2 dari 7 orang bersaudara. Anak yang ke-3 atau adik pertama saya juga seorang dokter di Malang, anak yang ke-4 atau adik ke-2 saya kerja di salah satu kantor pemerintahan di Singapura yang ingin saya kunjungi sebentar, anak yang ke-5 atau adik ke-3 saya menjadi arsitek di Jakarta, anak yang ke-6 atau adik ke-4 menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan anak yang ke-7 atau adik ke-5 saya menjadi Dosen di Semarang.”

Aku terdiam, hebat sekali orang tua dokter ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak ke-2 sampai ke-7. Aku menatap perempuan tua yang duduk di samping dokter yang baik hati ini.
kalau dokter anak kedua berarti dokter punya kakak dong?”
Sambil menghela napas panjang,
Dokter menjawab,
kakaknya dokter menjadi petani di Gorontalo, sayang. Beliau menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Aku begitu terkejut dengan informasi yang baru saja aku dengar ini,
“Maaf ya
Dok kalau aku banyak tanya…...kakaknya dokter agak mengecewakan ya di mata orang tuanya dokter? adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedangkan dia cuma menjadi petani.“
Dengan tersenyum dokter itu menjawab,
”Ooo, tidak, tidak begitu
sayang...justru dokter sangat bangga dengan kakak laki-laki nya dokter, karena dialah yang membiayai sekolah kami semua. Dia kakak yang sangat bertanggung jawab. Dia menggantikan posisi ayah untuk merawat dan membiayai semua adik-adiknya dari hasil dia bertani.”
Subuhanallah… Hatiku merasa tertunduk mendengar keluarbiasaan ini. Air mataku menetes dan hari ini aku menyantap hidangan terlezat buat batinku.

Pelajaran Hari Ini :
Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara, “Hal yang paling penting adalah bukanlah SIAPAKAH KAMU tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN.”

Sekian dari kisah perjalananku tempo hari saat akan berkunjung ke LAPAS Nusakambangan. Hari ini aku kembali termotivasi untuk tetap menjadi manusia yang selalu bisa memberi.
Dariku untuk kalian 
-Nurul ifadah-

Senin, 28 November 2011

Gudeg terlezat Dunia-Akhirat


Oleh:
-Nurul ifadah-
Yogjakarta, 8 juli 2008
Kelelahanku hari ini kusingkirkan jauh-jauh untuk menyempatkan diri menulis rangkaian kalimat ini. Aku merasa ada hal yang sangat penting yang harus kubagikan kepada sobat muda yang tengah menyempatkan diri membaca tulisan ini. Sesuatu yang ku alami hari ini. Hari dimana aku berada di sebuah hotel berbintang yang menurutku terlalu mewah untuk ditapak oleh kedua kaki kampung dan alas kaki murahan ini. Karena keajaiban Tuhan aku berada disini. Tidak bermaksud untuk pamer, aku berada di sini bukan karena aku kaya raya dan mampu membayar ongkos kamar per malamnya yang menurutku sungguh berada di luar jangkauanku. Aku hanya diutus oleh daerah tempatku bersekolah untuk melanjutkan perjuangan dalam sebuah kompetisi tingkat nasional. Namun bukan itu hal penting yang ingin aku share kepada sobat muda sekalian.
Kemarin aku didatangi oleh tiga orang anak kecil. Mereka sama sekali belum kukenal. Sore hari setelah kegiatan di hotel kemarin selesai, telepon kamarku berdering. Ku pikir itu hanya untuk menanyakan makan malamku. Atau teman-temanku yang iseng nelpon dari kamar lain hotel ini. Tapi ternyata dugaanku salah, yang menelpon adalah resepsionis hotel. Perempuan dengan suara lembut itu memberitahuku bahwa ada beberapa orang yang menungguku di loby hotel. Dari lantai 8 kamar 808 yang kutempati ini aku bergegas turun ke loby hotel. Benakku tak mau kalah untuk menebak siapa yang datang membesukku.  Aku berpikir mungkin kerabat yang berdomisili di Bandung yang jauh-jauh datang ke Jogja untuk membesukku atau teman-teman lamaku yang berdomisili disini yang berkunjung karena tahu aku sedang berada di sini untuk sebuah kompetisi tingkat Nasional. Tapi ternyata aku salah, yang datang justru orang-orang yang belum aku kenal. Mereka adalah anak-anak yang menawarkanku air mineral di terminal kemarin sebelum aku sampai ke hotel ini. yah… mereka adalah pedagang asongan yang kemarin airnya kubeli di atas bus yang kutumpangi bersama teman-teman. Yang aku heran adalah mengapa mereka tahu kalau aku disini dan untuk apa mereka menemuiku?
          Dengan penuh keheranan, aku menghampiri mereka. Melihatku berjalan ke arah mereka, spontan salah satu diantara mereka mengambil tanganku dan bersalaman.
“Eh mbak, maaf aku dan teman-teman ganggu waktunya mbak, Aku Rio pedagang asongan kemarin. Aku dan teman-teman datang kemari buat ngasih kembaliannya mbak. Waktu mau nukar uangnya mbak kemarin, aku nukernya terlalu jauh. Tiba di tempat parkir bus, bus yang mbak tumpangin udah nggak ada. Tapi untungnya yang nyupir bus itu pa’deku, jadi aku tahu mbak ada di hotel ini. ini uangnya mbak” jelasnya dengan nada mendok khas jogja yang terdengar begitu santun sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan dan beberapa uang seribuan. Aku sungguh tak dapat berkata. Ini pengalaman pertamaku dengan suasana yang seperti ini.
“Astagfirullah,.. Ngapain repot-repot sayang. Kakak nunu udah ikhlasin kok buat kalian. Lagian kakak sudah lupa kalau kakak belum ngambil kembaliannya. Hehe” jawabku sambil memegang tangan Rio
“Tapi mbak, jangan… ini terlalu banyak. Air mineralnya mbak Cuma 3000 rupiah, la uangnya mbak kegedean to mbak” tolaknya
“ia mbak jangan, kami nggak minta-minta, kami jual asongan. Nggak baik kalau kami ngutang” lanjut salah satu teman Rio dengan nada polos.
Sungguh aku tak mampu berkata. Hari itu saat perjalanan menuju hotel, memang aku sempat sedikit kesal saat bus yang kutumpangi berlaju tanpa kusadari. Di separuh perjalanan baru aku menyadari kalau ternyata aku lupa ngambil uang kembalian air mineral yang aku beli dari anak-anak penjual asongan yang kompak berdiri di hadapanku dan menawarkan dagangan mereka yang tidak seberapa. Hanya ada air mineral, permen dan beberapa bungus tissue di tas asongan mereka. Tapi rasa lelah menempuh perjalanan yang panjang dari Makassar ke Jakarta lalu lanjut ke Jogjakarta membuatku memutuskan untuk mengikhlaskannya dan melupakannya. Tapi kemarin aku merasa kalah dengan mereka yang mendatangiku hanya untuk mengembalikan uang yang menurut mereka adalah hakku. Berulang kali aku berusaha memberikan uang itu kepada mereka, tapi mereka malah nolak dan justru memohon padaku agar menerima kembalian itu.
Karena rasa bahagia yang teramat besar dalam dadaku, aku mencari cara agar aku bisa memberi mereka sesuatu tanpa harus membuat mereka merasa diberi.
“oya kalian kan orang sini, nah kakak dari Makassar. Nama kakak, Nurul ifadah. Kalian boleh panggil kakak, kakak nunu atau mbak nunu. Kakak di sini nggak lama, 2 hari kedepan kakak udah harus balik ke Makassar. besok siang sekitar jam 1 siang, kalian mau nggak bantuin kakak jalan-jalan disini? Maksudnya kakak, Rio dan teman-teman jadi pemandu wisata buat kakak. kakak belum hafal soalnya jalan ke Malioboro dari sini. heehe Daripada kakak nunu nyewa pemandu wisata yang nggak kakak kenal, mending kalian aja gimana? Ngasong g besok?” tanyaku dengan senyuman bahagia.
Mereka tampak gembira saling berpandangan dengan spontan mereka menjawab “Nggak mbak”, “Kami nggak ngasong. Iya iya besok jam satu aku, Rio dan Surna kesini lagi. Ok mbak.” Jawab salah satu dari mereka dengan muka sumringah.
“ok” jawabku.
“oya mbak nunu, kami harus pulang dulu ya mbak sampai ketemu besok” pamit mereka
“Eh tunggu dulu, ini uang yang kalian bawa tadi ambil aja, buat ongkos.” Bujukku
“ah nggak usah mbak, kami kesini diantar pakdeku.” Tolak Rio dengan senyumnya yang manis.
Aku melepas mereka dengan senyuman termanis. Bagiku mereka manusia luar biasa. anak-anak pedagang asongan yang memiliki hati yang tulus dan bening. Tuhan telah mempertemukanku dengan manusia sederhana yang luar biasa hari ini. Dalam lailku semalam, ku bersujud dan bersyukur pada Tuhan atas segala kebahagiaan yang Tuhan berikan hari ini padaku. Tak lupa juga ku sebut nama mereka yang baru saja datang menemuiku di hotel mewah ini.
          Keesokan harinya, ternyata mereka menepati janji. Mereka datang dengan paras yang begitu bersemangat. Ku ambil ranselku lalu ku berjalan bersama mereka menyusuri jalan kota gudek ini. Kami berpegangan tangan menuju dan berkeliling di malioboro. Aku meminta mereka memilih barang yang mereka sukai sebagai kenang-kenangan dariku. Mereka terlihat begitu senang, tak hentinya mereka mengucapkan terima kasih padaku. melihat mereka tersenyum dan mendengar tawa mereka justru membuatku jaaaauuuuh lebih senang dari yang mereka rasakan. Aku merasa begitu manyayangi mereka. aku jatuh sayang pada ketiga anak kecil ini. sangat sayang. Begitu banyak hal yang kami lakukan, mulai dari jalan, muter-muter di malioboro, makan di lesehan, ngemil ditaman dan duduk di tepian jalan mendengar cerita, canda dan tawa mereka. hari ini aku merasa hidup. Mereka mengajarkanku banyak hal. aku juga sempat bertanya mengapa mereka mau datang hari ini.
Kalimat singkat membuatku mengangguk dan tersenyum “Rio dan teman-teman kan udah janji ma mbak nunu, ya harus ditepati to mbak” jawab Rio nyeletus.
Rasanya masih ingin bersama anak-anak hebat ini, ponselku berdering dan seorang pendamping mengabarkanku bahwa aku lolos ke babak final malam ini. hatiku begitu senang, aku mengajak Rio, Agil dan Surna kembali ke Hotel. Hari juga sudah semakin senja. Setibanya di hotel begitu banyak orang datang dan menjabat tanganku. Kulihat wajah heran ketiga bocah ini, namun aku tetap menggandeng tangan mereka memasuki kamarku. Di kamar ini kuizinkan mereka tidur, berbaring, nonton dan bermain dengan notebookku. Mereka rasanya seperti adik kandungku sendiri. Aku meminta mereka menjadi supporter istimewa yang akan duduk di kursi paling depan saat aku presentasi di babak final. Aku begitu bersemangat melakukan persiapan yang hanya tinggal beberapa jam lagi untuk tampil di babak terakhir ini.
          Waktunyapun tiba, aku menggunakan pakaian lengkap dan siap untuk bertempur menjadi terbaik se-Indonesia. Kulihat wajah heran Rio, Agil dan Surna. tapi aku Cuma tersenyum pada mereka. Nafasku berpadu dengan lantunan dzikir di hatiku. Ku pasrahkan semuanya pada penilaian dan segala hal yang terbaik dari Tuhan yang seharian ini memberiku kebahagiaan tiada tara. Waktu demi waktu terus berjalan, aku tampil dengan maksimal di hadapan audiens dan para juri yang terlihat begitu berwibawa. Ketiga sahabat baruku itu terlihat melompat girang dan bertepuk tangan setelah presentasiku dan langsung menyambut tanganku dan menciumnya.
          Setelah semua peserta di babak final ini selesai melakukan presentasi, tiba giliran pengumuman hasil perjuangan kami. Aku tak berharap apa-apa dari perjuangan ini. bagiku aku telah memenangkan kompetisi ini dengan menyelesaikan setiap babak dengan usaha yang maksimal. Bagiku pengalaman dan peningkatan kualitas diri sendiri adalah hal yang terpenting. Juara berapapun aku terima. Walau telah pasrah, aku tetap saja deg-degan. Mulai dari harapan 3 sampai juara 3, namaku belum juga disebut, aku sudah tidak berharap lagi. Terlalu tinggi rasanya aku harus berharap berada di posisi yang kedua apalagi pertama. Aku melihat begitu banyak manusia berkualitas lainnya yang juga ikut bertempur bersamaku menjadi juara di kompetisi bergensi ini. Tapi saat itu ada hal yang membuatku nyaris pingsan. Saat seorang dewan juri meneriakkan namaku sebagai pemenang pertama sekaligus pemenang umum dalam rangkaian kompetisi ini. Tiga sahabat baruku langsung melompat dan memelukku. Rombongan Selebes yang bersamaku melangkah sampai ke tanah Jawa ini seketika menyerangku dengan pelukan. Aku sesak oleh begitu banyak kebahagiaan.
          Di hadapan sahabat baruku itu, aku naik ke panggung dan menerima hadiah sebagai seorang pemenang. Ku sebut nama mereka satu persatu dengan lelehan air mata kebahagiaan. Setelah prosesi itu, mereka bertiga pamit pulang padaku. kupeluk mereka begitu erat, ribuan terima kasih kupanjatkan pada mereka. Aku menyayangi mereka dan rasanya aku tak ingin berpisah dengan mereka bertiga. Ku minta mereka menunggu sejenak di dalam kamar lalu ku keluar kamar mengambil sesuatu. Yah.. sesuatu yang akan kupersembahkan buat mereka. kuserahkan tiga buah amplop kepada mereka. kuisi sesuatu yang jumlahnya sama banyak di dalam amplop itu, buat kuberikan kepada mereka.
Amplop pertama ku tulis “Honor Pemandu Wisata Jogya”
Amplop kedua ku tulis “Honor Supporter kelas VIP”
Amplop ketiga ku tulis “Oleh-oleh khas Jogya”
Mereka sempat menolak saat kuberikan ketiga amplop tersebut. Air mataku menetes menatap mereka, kemudian aku memeluk dan mencium mereka satu persatu. Kukatakan pada mereka bahwa amplop ini, tidak kakak berikan secara Cuma-Cuma karena kalian telah menjual jasa kalian buat kakak. sama seperti kalian menjual sebotol air mineral pada kakak kemarin.
Kalian telah menjadi pemandu yang sangat baik. Dengan atau tanpa kalian, kakak tetap akan mengeluarkan amplop ini buat orang lain. tapi karena kalian yang menjadi pemandu buat kakak, makanya amplop ini adalah hak kalian.
Kalian telah bersedia menjadi supporter buat kakak di presentasi tadi. Juara ataupun tidak hari ini, amplop ini sudah kakak niatkan untuk dibagi. Tapi karena kalian bertiga bersedia menjadi supporter buat kakak, yah ini buat kalian dan ini adalah hak kalian.
Nah,.. amplop yang satunya lagi adalah amplop yang kakak sediakan untuk membeli oleh-oleh buat dibawa kembali ke Makassar, tapi bagi kakak, oleh-oleh terbaik dan termahal untuk kakak bawa pulang adalah cerita tentang kisah bersama kalian kemarin dan hari ini. kalian telah membuat kakak mengerti tentang kejujuran. Kebersamaan kakak nunu dengan kalian adalah oleh-oleh terindah dalam hidup kakak. kejujuran kalian adalah gudeg terlezat yang pernah kakak santap. Kakak senang mengenal kalian.
Akhirnya mereka tersenyum dan bersedia menerima ketiga amplop itu sambil mengucapkan terima kasih yang diucapkannya berulang-ulang nyaris tiada henti. sampai aku menulis kisahku ini, air mataku masih meleleh mengenang mereka yang begitu Luar biasa. sungguh langka momentum ini. singkat, bermakna dan begitu berharga.  
Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit. Tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati. Itulah kisahku di tanah jawa saat menyantap gudeg terlezat dunia dan akhirat.

Aku terhenyak dan kembali ke kamar setelah mengantar mereka sampai ke depan hotel dengan seribu perasaan bahagia. Tuhan, hari ini hamba belajar dari tiga manusia super dan luar biasa yang Engkau hadirkan hari ini, kekuatan kepribadian mereka membuatku terenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang asongan dan menjajakkannya dari bus ke bus dan dari orang ke orang di area terminal.

Tiga anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.


-Nurul ifadah-
Kenali aku lewat setiap karyaku dan berkunjunglah di setiap ruang hidupku karena 24 jam ku buka itu untuk setiap jiwa yang ikhlas untuk terus berjalan, belajar dan berkarya